cangkir

Bogor , Mugi
sine ira et studio

KM 57

ibunda kini terbaring di rumah sakit. mereka bertiga menunggu. tidak bisa tidur, pasti. solat, sudah. 

ayah kini pergi bekerja. tinggal mereka bertiga disana. menemani ibunda yang tidak kunjung tidur daritadi siang. matanya sudah meminta tidur. obat tidur pun sudah ditelannya. tapi ranjang terus berdenyit mengeluarkan suara tidak nyaring. 

juli ini menjadi bulan yang penuh dengan cerita. sedih dan bahagia. 

dia langsung menuju rumah begitu mendapat kabar. Bogor lumayan jauh. empat sampai lima jam baru sampai. 

kalo kaka anter habis responsi nyampenya bisa lebih cepet?

mungkin. tapi dia melihat kaka terlelap tidur di sekret. dia tidak berani membangunkannya. tapi nyatanya kaka terbangun.

dia memutuskan untuk pulang sendiri tanpa diantar kaka. Bogor-Bandung pun menjadi alternatif untuk tiba lebih cepat di rumah sakit. tak apalah sedikit merogok kocek lebih dalam. benar kata orang “waktu itu mahal”. Jakarta macet. tak mungkin dia menunggu terlalu lama. 

adzan pun berkumandang. sekotak teh dan sebungkus sandwich cokelat menjadi ta’jil senja itu. di luar sudah mulai gelap. baru melewati KM 39 saat itu. 

wajahnya terlihat begitu cemas. berulang kali melirik jam di tangannya. melihat keluar dan baru saja melewati pintu keluar Karawang Timur. 

“sebentar lagi”, gumamnya. dia dengan cepat mengetikan pesan kepada kakanya untuk dijemput 15 menit lagi. Baterai handphone nya habis. tidak sempat diisi. 

KM 57 pun mulai terlihat.